Beranda | Artikel
Parenting di Era Digital
19 jam lalu

Parenting di Era Digital merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 8 Muharram 1448 H / 23 Juni 2026 M.

Kajian Tentang Parenting di Era Digital

Manfaat kemajuan teknologi informasi dalam realitas kehidupan modern tidak dapat dimungkiri sangat besar. Berbagai macam problematika kehidupan dapat diselesaikan dengan efisien berkat bantuan teknologi. Pola hidup manusia hari ini bahkan memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap perangkat teknologi maju, hingga menjadikannya sebagai tulang punggung di dalam mencari mata pencaharian.

Di balik seluruh kemudahan tersebut, teknologi pada hakikatnya bersifat netral. Perangkat ini memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang, yaitu sisi positif dan sisi negatif. Dampak akhir dari penggunaan teknologi tersebut sepenuhnya terpulang kepada individu yang mengoperasikannya.

  • Seseorang yang bijak akan mampu memanfaatkan teknologi demi kemaslahatan urusan dunia dan akhiratnya.
  • Seseorang yang lalai justru akan diperbudak dan tersandera oleh teknologi, sehingga perangkat tersebut berubah menjadi faktor penyebab hancurnya kehidupan dunia maupun akhirat.

Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan yang tinggi karena besarnya manfaat teknologi berjalan beriringan dengan besarnya pengaruh buruk yang siap mengintai.

Perkembangan teknologi informasi membawa arus perubahan yang sangat luar biasa terhadap tatanan kehidupan, terutama pada pola pikir dan perilaku manusia. Realitas era modern yang serba canggih ini menuntut setiap individu untuk lebih melek teknologi agar tidak menjadi gagap teknologi (gaptek).

Teknologi terbukti memberikan banyak kemudahan di dalam menyelesaikan pekerjaan, memperlancar proses belajar mengajar, serta memenuhi berbagai macam hajat hidup. Bahkan, dalam konteks spiritual, teknologi memberikan fasilitas yang sangat besar bagi kelancaran urusan akhirat, pelaksanaan ibadah, serta aktivitas amal saleh. Pada masa sekarang, seorang muslim dapat menunaikan ibadah sedekah hanya dengan ketukan ujung jari melalui aplikasi digital. Berbagai kemudahan untuk memproduksi pahala kini terbuka sangat lebar.

Namun, pengaruh negatif dari media ini juga tidak kalah dahsyat. Teknologi diibaratkan seperti senjata bermata dua yang efektivitasnya sangat bergantung pada tangan yang memegangnya. Manusia dihadapkan pada pilihan untuk mengoptimalkan teknologi sebagai investasi akhirat atau membiarkannya menjadi bencana bagi kehidupan setelah kematian.

Tantangan Parenting di Era Digital

Dalam konteks pendidikan anak, derasnya arus informasi melalui media menjadi tantangan yang sangat besar bagi orang tua. Pembahasan mengenai tema pengasuhan (parenting) pada masa kini dipastikan akan selalu memunculkan problematika utama yang sama, yaitu masalah gawai (gadget) serta intensitas aktivitas anak di dunia maya. Anak-anak masa kini memiliki akses yang sangat mudah untuk terhubung dengan dunia luar melalui gawai, tablet, telepon genggam, maupun komputer pribadi.

Transformasi media ini juga terjadi pada perangkat elektronik rumah tangga, seperti televisi yang kini telah beralih menjadi televisi pintar (smart TV). Keberadaan televisi konvensional zaman dahulu yang sifatnya hanya interaksi satu arah telah tergantikan sepenuhnya. Perangkat televisi modern saat ini telah disisipi teknologi canggih yang menyediakan banyak pilihan fitur interaktif, sehingga memungkinkan penggunanya untuk berkomunikasi dua arah. 

Semakin banyak pilihan fitur interaktif yang tersedia pada media modern, semakin besar pula risiko yang harus dihadapi. Di dalam konteks pendidikan masa kini, problematika utama yang mendesak untuk ditangani adalah pola interaksi anak di dunia maya melalui alat-alat teknologi, seperti telepon genggam, tablet, maupun perangkat digital lainnya.

Penggunaan teknologi informasi pada dasarnya memiliki dampak negatif dan positif yang sangat bergantung pada kecakapan penggunanya. Anak-anak dengan segala kekurangan, keterbatasan psikologis, serta belum adanya kematangan berpikir, belum cukup bijak untuk mengoperasikan perangkat canggih tersebut secara mandiri. Apabila orang tua melepaskan anak bersama gawai tanpa pengawasan, anak tidak akan mengerti fungsi esensial, batas-batas waktu, serta batasan moral yang perlu diperhatikan. Anak memiliki kecenderungan kuat untuk menggunakan gawai sebebas-bebasnya dan sesuka hati.

Kondisi tersebut menuntut peran aktif orang tua untuk memberikan pendampingan, pengarahan, serta edukasi yang intensif mengenai cara penggunaan teknologi yang sehat. Sebuah kesalahan fatal terjadi ketika orang tua menyerahkan alat-alat teknologi ini kepada anak, lalu membiarkannya begitu saja tanpa kontrol. Banyak orang tua terpedaya oleh sikap anak yang tampak tenang dan tidak banyak tingkah saat memegang gawai. Sikap tenang tersebut sama sekali bukan jaminan keamanan, sebab bahaya besar justru sedang mengancam masa depan mereka.

Banyak orang tua yang sama sekali tidak mengetahui aktivitas berselancar anak di dunia maya. Ketika suatu saat fakta dan realitas digital anak terungkap, orang tua sering kali terkejut dan sulit menerima kenyataan bahwa anak mereka telah melangkah terlalu jauh di dalam mengeksplorasi dunia maya.

Ancaman Propaganda Digital dan Arus Informasi

Ancaman yang mengintai generasi muda di dunia digital sangat beragam dan masif. Berbagai pemikiran menyimpang seperti propaganda lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), paham ateisme, serta berbagai kerusakan moral lainnya hari ini dipropagandakan secara terstruktur melalui media sosial. Arus informasi pada era digital memiliki karakteristik yang agresif, di mana informasi yang mengejar manusia, bukan manusia yang mencari informasi.

Kondisi akan menjadi jauh lebih buruk apabila manusia bersikap aktif mengejar informasi akibat terjangkit virus psikologis berupa rasa takut tertinggal tren atau informasi (fear of missing out/fomo). Sebagian besar informasi yang beredar saat ini dapat dikategorikan sebagai informasi yang tidak bermutu atau informasi busuk. Hal inilah yang menjadi masalah krusial bagi anak-anak pada masa sekarang.

Kecanggihan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membuat batas antara realitas yang nyata dan yang semu menjadi kabur. Manusia kini dapat memproduksi berita bohong (fake news) dengan tampilan yang sangat meyakinkan sehingga diyakini sebagai sebuah kebenaran. Fenomena ini merusak cara berpikir logis masyarakat, sehingga manusia menjadi mudah terjebak pada prasangka buruk (su’udzon), terburu-buru di dalam mengambil kesimpulan, serta gemar melayangkan komentar negatif di media sosial atas informasi yang belum tentu valid kebenarannya. Atas dasar inilah, membiarkan anak tanpa kontrol di dunia maya merupakan tindakan yang sangat berisiko.

Di dalam konteks digital, sikap tenang diwujudkan dengan melakukan Tabayyun atau verifikasi ketat terhadap setiap informasi yang masuk agar tidak terjebak pada propaganda terselubung.

Urgensi Pengawasan dan Proteksi Komunitas Anak

Upaya untuk memisahkan anak dari gawai pada masa sekarang merupakan hal yang sulit direalisasikan. Hal ini dikarenakan sebagian proses belajar mengajar dalam sistem pendidikan modern menerapkan metode pembelajaran jarak jauh secara daring (online). Konsekuensinya, perangkat digital tersebut mau tidak mau harus tetap berada di tangan anak.

Meskipun gawai diserahkan untuk kepentingan sekolah, tidak ada jaminan bahwa anak hanya menggunakannya untuk keperluan belajar. Oleh karena itu, peran orang tua yang paling diperlukan adalah melakukan pengawasan secara melekat dan memberikan pengarahan yang berkesinambungan.

Orang tua harus senantiasa waspada dan memastikan keamanan aktivitas digital anak. Sebuah tayangan atau situs tidak bisa langsung dinilai aman hanya karena menampilkan tulisan Arab, sebab propaganda atheisme maupun pemikiran menyimpang lainnya saat ini juga kerap disebarkan menggunakan bahasa Arab.

Orang tua wajib mengetahui secara pasti apa saja kegiatan anak di dunia maya, siapa saja yang menjadi teman komunikasinya, serta masuk ke dalam komunitas digital apa saja anak mereka. Walaupun pelacakan teman secara personal di dunia maya sangat sulit dilakukan pada masa sekarang, minimal orang tua mengetahui karakteristik komunitas yang diikuti oleh anak. Tanpa adanya proteksi dan pengawasan yang ketat dari orang tua, anak-anak akan sangat mudah menjadi korban pergaulan bebas di dunia maya.

Banyak korban dari kalangan generasi muda yang berjatuhan akibat pengaruh buruk lingkungan di dunia maya. Pola persahabatan di ruang digital sering kali tidak jelas arahnya. Fenomena pemalsuan identitas sangat marak terjadi, seperti akun yang menggunakan foto profil laki-laki namun aslinya dioperasikan oleh perempuan, ataupun sebaliknya.

Realitas tersebut menunjukkan bahwa dunia maya bukan lagi sekadar wilayah abu-abu, melainkan sudah menjadi dunia yang gelap. Tanpa adanya pemahaman serta bimbingan untuk tetap berjalan lurus, anak-anak akan sangat mudah terseret ke dalamnya. Ruang digital menyediakan godaan yang sangat besar, sehingga anak yang awalnya memiliki kecenderungan baik pun dapat berbelok arah.

Ancaman yang paling nyata dan berkaitan langsung dengan pembahasan Tarbiyah Jinsiyah (pendidikan seksual) adalah maraknya konten pornografi. Tontonan pada era digital terbukti memberikan pengaruh yang sangat masif terhadap perubahan perilaku serta cara berpikir manusia secara umum. Transisi cara berpikir dari pola analog pada generasi terdahulu, seperti generasi baby boomer dan generasi X, menuju pola digital pada generasi Z, generasi alfa, dan generasi beta, membawa dampak sosial yang signifikan.

Fenomena Pubertas Dini Akibat Konten Digital

Dampak nyata dari derasnya arus tontonan digital adalah maraknya fenomena pubertas dini pada anak-anak zaman sekarang. Pada umumnya, batas usia baligh bagi seorang anak berkisar pada usia 10 tahun ke atas. Namun, fakta di lapangan menunjukkan banyak kasus anak yang telah mengalami kematangan seksual secara biologis sebelum menginjak usia 10 tahun.

Akselerasi masa baligh ini dipicu oleh faktor tontonan yang mereka konsumsi di dunia maya melalui internet dan media sosial, bukan melalui media televisi konvensional yang masih terikat oleh regulasi sensor. Penggunaan platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube saat ini telah merambah secara merata, baik di wilayah perkotaan, kota-kota satelit, hingga ke area pedesaan.

Konten-konten tersebut dikonsumsi secara masif setiap hari. Aktivitas menggulir layar (scrolling) gawai ke berbagai arah tanpa sadar dapat menghabiskan waktu berjam-jam. Akumulasi informasi yang masuk secara konstan tersebut secara otomatis merusak pola pikir manusia hingga memicu gangguan psikologis modern seperti fenomena FOMO (fear of missing out) maupun kecenderungan NPD (narcissistic personality disorder).

Menghadapi kompleksitas ancaman digital ini, sebagian orang tua tampak mulai menyerah dan kehilangan kendali. Tindakan mengibarkan bendera putih dengan bersikap pasrah secara total dan menyerahkan sepenuhnya urusan anak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa adanya usaha maksimal merupakan kekeliruan. Sikap tawakal harus diimbangi dengan ikhtiar pengawasan yang kuat.

Tantangan terberat bagi orang tua adalah menerapkan metode pengawasan yang bijaksana. Apabila proses pengawasan dilakukan secara terang-terangan dan berlebihan (overprotective), anak justru akan merasa tidak nyaman dan berusaha menghindar. Sifat dasar manusia cenderung akan menjaga jarak dan menutup diri apabila menyadari bahwa dirinya sedang dimata-matai.

Orang tua yang terlalu agresif di dalam mengontrol aktivitas digital akan memicu anak untuk bersikap defensif. Anak akan mulai menyembunyikan jejak digitalnya atau bahkan nekat melakukan tindakan kebohongan demi mengelabui orang tua. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan serta seni pengawasan yang luwes, di mana orang tua tetap dapat memantau aktivitas dunia maya anak tanpa membuat anak merasa sedang dihakimi atau dicurigai.

Keluguan Remaja dan Ancaman Kejahatan Siber

Langkah krusial berikutnya yang harus diprioritaskan oleh orang tua adalah memberikan bimbingan serta pengarahan yang berkesinambungan. Anak-anak remaja memiliki karakter yang masih terlalu lugu, polos, serta minim pengalaman hidup. Berbeda dengan orang tua yang sudah banyak makan asam garam kehidupan sehingga memiliki tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi terhadap berbagai ancaman di lingkungan sekitar.

Akibat keluguan dan kepolosan tersebut, anak-anak kerap tidak menyadari adanya bahaya yang mengintai, sehingga mereka sangat rentan menjadi korban penipuan maupun tindak kejahatan digital. Realitas hari ini menunjukkan bahwa orang dewasa yang matang secara psikologis pun masih sering terjebak dalam modus penipuan, terlebih lagi anak-anak remaja.

Fenomena yang marak terjadi saat ini adalah banyaknya remaja yang terjerat kasus pinjaman online (pinjol) maupun judi online (judol). Keluguan mereka diperparah oleh paparan syubhat atau pemikiran rancu yang mengklaim bahwa aktivitas tersebut bukan termasuk kategori judi atau riba. Ditambah dengan tingginya rasa penasaran khas usia remaja serta rendahnya orientasi berpikir terhadap risiko masa depan, mereka mudah sekali mengambil keputusan yang keliru. Terlebih lagi, uang yang mereka transaksikan umumnya bukan hasil keringat sendiri, melainkan pemberian dari orang tua. Seluruh perangkat maksiat digital tersebut bersumber dari satu muara, yaitu platform media sosial dan situs-situs di dunia maya yang sengaja didesain untuk menggelitik rasa penasaran remaja.

Para orang tua pada masa sekarang harus memiliki kesadaran penuh bahwa kondisi zaman telah mengalami perubahan yang sangat drastis dibandingkan dengan masa lampau. Salah satu kesalahan berpikir yang harus dihindari adalah menyamakan dinamika zaman dahulu dengan realitas zaman sekarang, apalagi menyamakannya secara mentah-mentah dengan kondisi pada zaman Nabi. Tindakan menyamakan kedua fase zaman yang berbeda ini tanpa melihat konteks ruang dan waktu merupakan sikap yang kurang arif dan tidak realistis.

Peradaban modern telah membawa pergeseran nilai yang sangat masif di tengah masyarakat. Konsekuensinya, para orang tua dituntut untuk menerapkan pola pendekatan (approach) serta komunikasi yang jauh lebih intens dan efektif kepada anak. Orang tua tidak boleh mengabaikan ruang komunikasi atau bersikap malas di dalam membangun interaksi emosional dengan dalih kesibukan kerja.

Sikap pasif orang tua akan menyulitkan internalisasi nilai-nilai agama, termasuk konsep berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain). Generasi muda saat ini, seperti generasi Z dan generasi alfa, memiliki pola pikir yang berbeda sehingga nilai-nilai luhur seperti birrul walidain tidak dapat ditanamkan secara doktriner atau paksaan, terutama saat mereka berada di fase usia remaja. Pola komunikasi searah harus diubah menjadi dialog yang interaktif dan penuh empati.

Menurunkan Ego Orang Tua Demi Memangkas Jarak

Upaya untuk mewujudkan komunikasi yang efektif menuntut para orang tua untuk menurunkan ego mereka di hadapan anak. Menurunkan ego di hadapan anak merupakan salah satu beban psikologis yang dirasa paling berat oleh sebagian besar orang tua. Ada kecenderungan bersikap pasraf dan superior dengan memegang prinsip bahwa anaklah yang harus selalu berinisiatif mendekati orang tua. Sikap pasif dan kaku tersebut justru akan memperlebar jurang pemisah (gap) antara orang tua dan anak.

Dampak buruk dari bertahannya ego orang tua ini dapat disaksikan dalam fenomena sosial sehari-hari. Banyak dijumpai pemandangan di dalam sebuah rumah di mana ayah, ibu, dan anak berada di dalam satu ruangan yang sama seperti ruang tamu atau ruang keluarga namun tidak ada interaksi dan komunikasi yang terbangun di antara mereka. Komunikasi yang terjadi hanya sebatas ucapan salam dan menanyakan kabar secara formalitas belaka.

Selebihnya, masing-masing individu tenggelam dan asyik dengan aktivitasnya sendiri di dunia maya melalui gawai mereka. Anggota keluarga terjebak dalam ruang sunyi secara fisik karena pikiran mereka berpindah ke ruang digital. 

Pertemuan fisik antar anggota keluarga pada masa sekarang sering kali hanya sebatas berkumpulnya raga, sementara jiwa dan perhatian mereka berada di tempat lain. Fenomena keterasingan ini tidak hanya terjadi di ruang keluarga yang luas, melainkan sudah merambah ke ruang yang sangat sempit seperti kabin mobil.

Di dalam kabin kendaraan yang barisnya terbatas, seorang ayah sering kali harus menanggung penderitaan psikologis secara sendirian. Ketika ayah fokus mengemudikan kendaraan demi keselamatan keluarga, sang ibu yang duduk di sampingnya justru asyik mengoperasikan gawai. Begitu pula saat sang ayah melirik melalui kaca spion tengah, anak-anak yang duduk di bangku belakang tampak mengalami hal yang sama, yaitu tenggelam dalam kesibukan menatap layar gawai masing-masing.

Kondisi tersebut membuat posisi ayah murni hanya berfungsi sebagai sopir tanpa adanya interaksi hangat. Upaya ayah untuk membuka obrolan pun sering kali diabaikan oleh anak-anak karena perhatian mereka telah teralihkan sepenuhnya oleh gawai. Hal ini terjadi karena media digital menyediakan pintu-pintu pilihan informasi yang sangat beragam dan dinamis melalui berbagai platform media sosial seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, Twitter, Line, dan YouTube.

Perubahan dinamika informasi yang bergerak sangat cepat di dunia maya memicu rasa penasaran dan ingin tahu yang berlebihan pada diri manusia. Tanpa disadari, pemenuhan rasa penasaran terhadap informasi tersebut telah bertransformasi menjadi penyuplai hormon dopamin atau hormon kebahagiaan di dalam otak. Manusia modern merasa puas dan bahagia saat berhasil mengakses informasi apa pun, sekalipun informasi tersebut mengandung unsur provokasi yang menjengkelkan.

Gejala kecanduan ini terlihat nyata saat seseorang membaca konten atau komentar negatif yang menyakitkan hati hingga membuatnya marah dan mengutuk di media sosial. Meskipun konten tersebut merusak suasana hatinya, anehnya pada keesokan hari ia akan kembali mencari konten sejenis. Sikap impulsif yang terus berulang ini merupakan bukti konkrit bahwa otak telah mengalami kecanduan dopamin digital. Fenomena psikologis ini tidak hanya menjangkiti orang dewasa, tetapi juga berimbas secara masif kepada anak-anak.

Dampak domino dari kecanduan media digital ini adalah emosi manusia menjadi sangat labil dan tidak stabil. Ketidakstabilan emosi tersebut dapat disaksikan dalam realitas kehidupan sehari-hari di jalan raya, di mana masyarakat menjadi sangat mudah tersulut amarah hanya karena persoalan sepele, seperti bunyi klakson kendaraan atau kesalahpahaman kecil. Kondisi psikologis lalu lintas pada era digital saat ini sangat kontras jika dibandingkan dengan era tahun 1980-an atau 1990-an, di mana tingkat sensitivitas dan keegoisan para pengguna jalan tidak seburuk sekarang. Sikap apatis dan hilangnya kepedulian terhadap lingkungan sekitar merupakan dampak nyata dari keterikatan manusia yang berlebihan terhadap gawai.

Akselerasi Infrastruktur Internet dan Pola Konsumsi Konten

Perkembangan teknologi informasi berjalan sangat mencolok dengan hadirnya perangkat-perangkat cerdas yang tingkat kecanggihannya terus meningkat setiap hari. Pada masa lalu, ketika infrastruktur internet masih berada pada fase GPRS, 3G, atau 3,5G, teknologi belum menjelma sebagai ancaman moral yang krusial karena kecepatannya yang lambat. Proses pemuatan data yang lambat untuk memunculkan teks atau dokumen kata (word) satu per satu membuat aktivitas berselancar di internet menjadi menjemukan, sehingga pengguna mudah merasa bosan.

Namun, situasi berubah drastis saat teknologi memasuki era 4G LTE hingga era 5G yang menawarkan kecepatan akses sangat tinggi. Infrastruktur yang sangat cepat ini mempermudah aktivitas mengunduh maupun menyaksikan tayangan video berdurasi panjang dalam hitungan detik. Konsekuensinya, informasi yang bersifat tekstual kini hanya berstatus sebagai data pendukung, karena masyarakat lebih tertarik pada konten visual dan kolom komentar.

Sebagian orang bahkan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membaca kolom komentar di media sosial sebagai sumber hiburan atau pelampiasan emosi. Mereka mengulang-ulang aktivitas membaca komentar negatif yang merusak pikiran secara sadar setiap hari. Pola perilaku yang tidak sehat ini menegaskan bahwa kecanduan gawai telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan memerlukan penanganan yang serius dari lingkungan keluarga.

Infrastruktur jaringan internet bergerak semakin cepat dari waktu ke waktu. Setelah era 5G berjalan secara masif, peradaban kini tengah bersiap menyambut kehadiran era 6G. Akselerasi kecepatan internet ini diiringi pula oleh lompatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Perangkat telepon genggam yang dahulu dikategorikan sebagai ponsel pintar (smartphone), kini telah bertransformasi menjadi ponsel jenius. Tingkat kecerdasan sistem AI yang tertanam di dalam perangkat tersebut bahkan sering kali melampaui kapasitas berpikir dari penggunanya sendiri.

Fenomena ini menjadi ancaman baru yang sangat nyata bagi masa depan generasi muda. Realitas tersebut memunculkan fakta bahwa sebagian besar orang tua belum siap menghadapi tantangan digital yang sedemikian masif. Keterbatasan pemahaman teknologi membuat banyak orang tua menjadi gagap teknologi (gaptek), sehingga mereka memilih sikap pasrah secara total dan melepas tanggung jawab pengasuhan dengan dalih menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan anak kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sinergi Pengawasan dan Pengarahan Tanpa Ego

Guna menghadapi tantangan peradaban digital ini, terdapat dua pilar utama yang wajib konsisten dilakukan oleh orang tua, yaitu pengawasan dan pengarahan. Orang tua tidak boleh memelihara rasa bosan untuk terus mengawasi sekaligus mengarahkan anak, khususnya yang berkaitan erat dengan aktivitas mereka di dunia maya.

Pendekatan kepada anak harus dilakukan secara persuasif dan humanis. Orang tua wajib menghindari pola komunikasi yang memberikan kesan seolah-olah anak sedang dimata-matai atau dicurigai. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah membangun kepercayaan diri pada anak agar mereka mau bersikap terbuka dan bersedia menceritakan setiap aktivitas digitalnya kepada orang tua.

Membangun hubungan saling percaya antara anak dan orang tua di era digital ini diakui memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Apabila orang tua mengedepankan sifat temperamental, mudah mengamuk, serta tidak siap mental menerima kenyataan buruk mengenai aktivitas anak di media sosial, maka anak akan kehilangan kepercayaannya. Anak akan memilih untuk menutup diri, bersikap diam di hadapan orang tua, namun emosi dan moralnya hancur di dalam kesunyian.

Pemaparan mengenai bahaya laten media digital ini bertujuan untuk mengungkap realitas faksi dan fakta objektif yang terjadi di lapangan, bukan sekadar untuk menakut-nakuti. Teori-teori pengasuhan yang tertulis manis di atas kertas sering kali tidak sejalan dengan dinamika riil di dunia nyata.

Tantangan dan kerusakan moral akibat penyalahgunaan gawai saat ini telah merambah ke seluruh lini lingkungan pendidikan. Problematika ini tidak hanya ditemukan di dalam lingkungan rumah tangga, melainkan telah menyusup ke lingkungan sekolah umum, bahkan hingga ke dalam institusi pondok pesantren yang berbasis pendidikan agama. 

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.

Download mp3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56343-parenting-di-era-digital/